Diduga Tidak Sesuai Bestek, Proyek Pekerjaan Jalan Rp985 Juta di Majene,Abaikan K3


Majene, Sulawesi Barat — Proyek peningkatan jalan strategis yang menghubungkan Lombongan–Patabeang Desa Tallambalao Kecamatan Tamerodo Kabupaten Majene tengah menjadi sorotan publik. Dengan nilai anggaran mencapai Rp985 juta, pekerjaan rabat beton di Desa Tallambalao justru memunculkan kekhawatiran terkait pelaksanaan yang diduga tidak sesuai bestek dan mengabaikan prinsip keselamatan dan kesehatan kerja (K3).

Pantauan di lokasi menunjukkan sejumlah pekerja melakukan pengecoran sepanjang 200 meter tanpa perlengkapan keselamatan seperti helm, rompi, atau rambu peringatan lalu lintas. Kondisi ini memicu reaksi keras dari warga sekitar yang merasa prihatin terhadap potensi bahaya yang mengintai.

“Dengan anggaran sebesar itu, seharusnya keselamatan menjadi prioritas. Jangan tunggu ada korban baru bertindak,” ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.

Seorang pengamat konstruksi lokal turut angkat bicara, menyebut bahwa pengabaian terhadap K3 bukan sekadar pelanggaran teknis, melainkan berisiko terhadap keselamatan jiwa. “Jika terjadi kecelakaan, itu bukan musibah biasa, tapi kelalaian fatal,” tegasnya.

Proyek ini dikerjakan oleh CV. Wisma Rio dengan pengawasan dari CV. Bambu Karya Consultant, berdasarkan kontrak kerja selama 75 hari kalender dengan nomor kontrak 600.1.8/102/2025. Sumber pendanaan berasal dari PKB, yang merupakan bagian dari kontribusi masyarakat melalui pajak.

Saat dimintai klarifikasi, pihak konsultan pengawas menyebut telah memberikan teguran kepada kontraktor. Namun, pernyataan tersebut justru memicu kritik lebih lanjut. Publik menilai pengawasan seharusnya dilakukan secara aktif dan konsisten sejak awal pelaksanaan proyek.

Sejumlah pihak kini mendesak pemerintah daerah untuk melakukan investigasi menyeluruh terhadap dugaan pelanggaran K3 dan ketidaksesuaian pelaksanaan proyek dengan spesifikasi teknis. Transparansi penggunaan anggaran juga menjadi tuntutan utama, mengingat nilai proyek yang hampir mencapai satu miliar rupiah.

Masyarakat berharap agar proyek-proyek infrastruktur di Majene tidak hanya mengejar target fisik, tetapi juga menjunjung tinggi standar keselamatan dan akuntabilitas. “Pekerja berhak pulang dengan selamat. Jangan biarkan kelalaian menjadi warisan pembangunan,” ujar seorang tokoh masyarakat.

***(Tim)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penampakan Ular Sepanjang 7 Meter di Salu Pepakkang, Desa Salutambung Resahkan Warga.

Bupati Majene Raih Gelar Doktor, Komitmen Terus Tingkatkan Pelayanan Publik

Tidak Lagi dari APBD! Gaji PPPK Paruh Waktu Kini Bisa Dapat dari BOS dan Kapitasi, Ini Aturannya!